Minggu, 18 November 2007

EKSPEDISI YANG KEDUA OLEH BELANDA KE ACEH

Saya Kutip Dari Buku DE ACEH OORLOG (PERANG ACEH)
PAUL VAN'T VEER


Ekspedisi yang pertama telah gagal karena tindakan yang tergesa2, dengan perlengkapan yang sangat buruk dan ketiadaan rencana peperangan. Anggaran Belanda Hinda-Belanda telah dinaikkan dengan 5,5 juta rupiah, lebih dari setengahnya adalah untuk marinir yang memperlihatkan gambaran yang buruk sekali.

Untuk keperluan Hindia di negeri Belanda sedang diusahakan mengerahkan dua ribu orang lebih banyak dari kekuatan yang telah ada.karena desas desus mengenai tugas2 berat ke Aceh menembus ke Eropa, maka dengan segera terpaksalah uang2 dilipatgandakan menjadi 400 rupiah. pada pihak perwira2 Belanda terdapat banyak pekerjaan Untuk di tempatkan diseberang lautan mereka itu memperolah hadiah sebanyak 1500 rupiah. Namun perwira2 kesehatan belumlah dapat dikerahkan secukupnya meskipun hadiah mereka dinaikkan sampai 4500 rupiah.
waoooww sungguh upah yang sangat tinggi pada masa itu.

perhatian sepenuhnya ditujukan terhadap masalah persenjataan. pasukan artileri memiliki 72 pucuk meriam. ditambah lagi dengan dua buah pucuk senapan yang paling mutakhir pada masa itu. dri betawi dibawa pabrik roti uap yang lengkap, akan tetapi krna beberapa kerusakannya pabrik itu tdk dapat di pergunakan, sehingga lebih kurang 3000 anggota militer Eropa dgn menggerutu harus memilih makan biskuit kapal yang sangat keras atau makan nasi. begitu juga halnya dengan kereta api kecil dgn relnya sepanjang 6 Km serta 6 buah gerbongnya.adanya pompa2 modern, dua buah jembatan besi dan sebuah pangkalan sementara, sebuah bengkel pambuat senapan, sebuah tempat pemeriksaan air sebuah bengkel besi dsb.,dsb., semuanya menunjukkan adanya organisasi sempurna seperti belum pernah dialami di Hindia-Belanda.

Akhirnya kekuatan tentara untuk Aceh berjumlah lebih kurang 13.000 orang. diantaranya 389 orang perwira, 8.156 orang bawahan, 1.037 orang pembantu perwira, 3.280 orang hukuman kerja paksa dan 243 oang wanita. Mereka itu diberangkatkan dari berbagai kota garnisun di jawa ke Aceh. 19 buah kapal pengangkut telah disewa, semua apa yang diperdapat di Betawi dan Singapure, dan dalam jumlah itu termasuk jg kapal2 asing seperti ' Maddaloni' milik Jenderal Italia Nino Bixio.

suatu perjalanan dgn orang2 mati di kapal, buakn sebagai panjar atas kesulitan2 yang akan di temui di Aceh akan tetapi sebagai warisan wabah kolera yang periodik, yang pada penghujung bulan oktober 1873 baru saja melanda Betawi, yang juga di gunkana oleh Belanda nantinya di untuk membunuh pejuang2 Aceh,ribuan orang yang sedang naik kekapal menjadi mangsa yang paling empuk sekali bagi penyakit itu.keberangkatan yang tadinya 1 nopember di tunda sampai 10 hari, sedang pada hari keberangkatan itu tdk ada upacara2 yang tadinya di rencanakan, di kapal sudah tercatat 60 orang mati, dan sekali mereka mendarat jumlah korban semakin bertambah setiap hari. hujan turun tak henti2nya tempat2 berteduh menjadi becekdan kekurangan dokterpun segera terasa.

pada taggal 9 desember salah satu dari brigade itu (yang keempat telah dikirim ke padang sebagai cadangan),setelah melakukan latiha perang2an semua di padang.kemudian mereka didaratkan kekmbali di panta aceh yang berawa2.setelah melakukan peperang denagn cukup hati2, barulah setlah 14 hari pasukan induk dapat bermarkas didekap kampung paunayong.

pada akhir desember 1873 meninggal 150 orang penyakit kolera dan 500 orang pasien dirawat di tenda2 yang berpindah2 harus ketempat keringsebanyak 18 orang perwira dan 200 orang bawahan harus diangkut ke padang dalam keadaan sakit krna rumah sakit darurat tidak dapt menamung lagi.Dgn demikian,maka sebelum ekspedisi itu memulai tugasnya, ia telah kehilangan sepersepulah lebih kekuatannya.

sebelunya merka mendara Van Swieten mengirim utusannya dengan membawa suruat2 kpd Sultan yang msh muda itu serta penasihat2nya.surat2 itu di ajuakn suapaya sultan menyerah, ttp tdk di jawab sedang utusan2nya di bunih. setelah pasukan mendarat, memang ada beberapa pemuka rakyat yang rendah kedudukannya didaerah pantai datang manyeranh. Di antara mereka itu adalah kepala daerah Meuraxa bernama Tuku Ne'. di luar daerah aceh ia disebut 'raja'. akan tetapi disini dinamakan Ulee Balang.

Setelah mengalami beberapa buah peperangan di pantai ketika menuju peunayong, tempat didirikannya marka besar yang ttp, maka pada tanggal 6 januari mulailah Van Swieten melakukan serangan besar2an yang pertama. serangan tersebut di tujukan ke Masjid Raya yang kini untuk ketiga kalinya harus di rebut oleh tentara hindia belanda, dalam tempo sepuluh bulan. Lagi2 diderita kekalahan yang besar, Serangan itu di lakukan oleh sebuah brigade lengkap yang terdiri 1.400 orang, pada kahir serangan tercatat dua rarus orang serdadu menderita luka parah dan 14 orang perwira luka.sungguh kerugian bagi Belanda yang cukup besar, Van Sweiten malahn telah menghitungnya dgn angka2 kerugian lain. Disini dalam sehari saja sepertujuh brigadenya sudah tak terpakai lagi.Oleh karenanya dlm menghadapi serangan2 ke Dalam (istana) ia mempersiapkan kembali penyelidikan2 yang lebih sempurna serta melakukan tembakan yang terus menerus.Atas Nasehat Ttuku Ne'dilakukan pengepungan terhadap Dalam. Lobang2 perlindunganpun digali dan kedalamnya ditempatkan meriam2 besar.juga sekoci2 yang di perlengkapi dengan meriam2 kecil turut mengambil bahagian dalam serangan2 itu.akhirnya setelah di beri syarat untuk menyerang Dalam pada tgl 24 januari 1874 di ketahuilah pada malam harinya lawan telah menyingkir dari tempat itu.daerah Dalam yang bertembok itu dgn bangnan2 besar dan kecil yang talah menjadi reruntuhan dan tak ada sebuah pun yang menyerupai istana lagi yang telah jatuh ke tangan tentara Hindia-Belanda tanpa perlawanan apa2.

di Betawi dan Negeri Belanda Perebutan Dalam Dianggap sbg sukses terpenting yang telah di capai oleh ekspedisi.dendam pada bulan April 1873 telah dibalas pada bulan januari 1874.

Van Sweiten karena gembiranya memerintahkan tentara memainkan musik lagu Wien Neerlandsch bloed (barang siapa yang berdarah india) seta mengedarkan bendera kampanye kpd para perwira yang sengaja di bawa untuk maksud tersebut. Perintah harian yang di tujukan kepada para pasukannya disusun dengan gaya bahasa tentara yang seindah-nya.('Dalam Sultan Aceh tekah kita miliki dab bangsa Aceh yang perkasa itu telah tunduk kepada jeberanian dan kecakapan anda berperang').

Di Den Haag Staats-Courant'(koran negara)Belanda telaha menerbitkan nomor istimewa dengan selebaran yang berjudul "Dalam Sultan Aceh telah kita miliki". Di gedung2 pemerintah di kota2 di HIndia da negeri Belanda dikibarkan bendera; pada malam harinya di pasang bunga2 api, sementara di gedung kesenian Kerajaan di Den Haag setelah musik di memperdengarkan lagu2 penghormatan, dinyanyikan lagu kebangsaan dan setiap orang saling berpandang2an dengan air mata yang berlinang2.

Akan tetapi kemenangan tidaklah dimulai dari Dalam Sultan Aceh. berlainan sekali dengan adat kebiasaan negara2 lai, maka kehilangan tempat kediaman Sultan dalam memerangi Aceh tidaklah berarti apa2. Bahkan kemangkatan sultan muda itu akibat penyakit kolera yang diimpor oleh tentara Hindia-Belanda tdk sedikitpun menimbulkan perbedaan semangat perjuangan pada pihak2 Aceh. Tembakan2 gencar terhadap Dalam , Mesjid Raya dan seranga2 terhadap tempat2 kedudukan tentara Hindia-Belanda di teruskan siang dan malamoleh pejuang2 Aceh. Orang2 Aceh yang tidak memiliki pasukan2 yang teratur, paling banyak mereka berperang dalam jumlah puluhan atau ratusan orang, akan tetapi demikianlah mereka itu memulai peperangan gerilya seolah2 elah berlatih secara mahir untuk maksud2 tersebut.

Memang, mereka itu benar2 sudah terlatih untuk hal tersebut. semakin jelaslah, bahwa pencebisa daerah dengan masing2 'ulee balangnya' sebagai 'tuan' sendiri didalam daerahnya, merupakan perongrongan terhadap strategi belanda dari dua jurusan.
yang pertama:
"ternyata, bahwa rencan Politik Van Swieten yang hendak memaksakan Sultan supaya menandatangani perjanjian 'a Ia Siak adalah omong kosong belaka. SEbab pada waktu itu tidak ada sultan yang dapayt mengendalikan rakyatnya".
Yang kedua:
"Karena Aceh sudah terbiasa terbiasa hidup bergerilya disebabkan berpuluh2 tahun lamanya ia baerada dalam keadaan kacau balau. setiap kampung menjadi kubu pertahanan dan stiap orang memakai senapan, kelewang dan rencong. Di kala itu para pejuang Aceh tidak saja sesuka hati dapat berperang tetapi setelah mereka beberapa minggu lamanya berada di rumah di pedalaman, kemudian mereka menyerang daerah2 kecil yang sudah di duduki oleh Van Swieten dan selain itu mereka akan memperoleh kerajaan surha kerena peperangan itu adalah peperangan Agama melawan kafir".

Dari 389 orang perwira dan 8.000 orang orang bawahan anggota ekspedisi ketika di berangkatkan ternyata bahwa yang tewas di Aceh karena penyakit berjumlah masing2 28 orang perwira dan 1.700 orang bawahan.beberapa bulan kemudian telah dipindahkan lagi 1.000 orang. abik karen penyakit atau luka2. Dalam tempo lima bulan saja Van Swieten kehilangan seperempat dari selluruh kekuatan militernya.

angka kematian orang2 kerja paksa yang di bawah dari jawa maupun dr pulau2 lain di indonesia lebih tinggi lagi. Dari 3.000 orang yang di berangkatkan dari betawi meninggal 1.000 orang, jumlah mereka itu telah di tambah lagi. akan tetapi dari 3.000 orang yang ditinggalkan dalam Bulan April 1874 oleh Van Swieten kpd penggantinya kolonel J.L.J.H. Pel, pada tahun itu juga meninggal 900 orang sementara 2.000 orang lagi karena penyakit terpaksa diangkut ke Padang atau ke Jawauntuk digantikan dengan yang baru pula.

Kemenangan apakah yang sebenarnya telah di capai???
Dalam Sultan Aceh yang kosong sudah di rebut, yang kemudian dinamakan oleh orang2 Belanda "KutaRaja" sebagai inti pertahanan mereka, kendatipun tidak ada lagi sultan Aceh yang berdiam disitu. Agak kehilir sepanjar sungai Aceh didirika beberapa tangsi besar. Dana telah dimiliki sebuah daerah seluar beberapa kilometer nominal. Akan tetapi tujuan polotik tidaj satupun yang tercapai.

Juga Ekspedisi kedua atau perang Belanda di Aceh yang kedua dalam kenyataannya adalah sebuah bencana yang amat menyedihkan. Kendatipun penyambutan kembali pasukan2 ke Jawa dilakukan secara besar2an, dengan gerbang2 yang dihias, dengan anggur2 kehormatan dan karangan2 bunga kehormatan serta peneriamaan Van Swieten yang meriah di negeri Belanda lima bulan kemudian. Lagi2 dengan jamuan2 makan besar2an yang dihadiri oleh pangeran2, menteri2 di 'Badhuis' kota scheveningen, namun semua itu tidaklah dapat menutupi kebenarannya.

2 komentar:

Baka Kelana mengatakan...

Memang jie Beulanda nya paleng pet di hadapi bangsa geutanyoe

Mizuar mengatakan...

iyah bang.. han abeh pike awak belanda sampe membentuk pasukan elit untuk memberantas para mujahid aceh..
krn kekuatan aceh sangat di pengaruhi oleh ulama dan ulama lgsg yg pimpin perang...